Direktur BP-PKU MUI DKI Jakarta KH. Muladi Mugheni, Ph.D. bersama sekretaris BP-PKU Mulyadin Permana, M.Si. dan KH. Achmad Sudrajat, MA. (Pimpinan BAZNAS RI periode 2020-2026) menyelenggarakan pertemuan dalam rangka menjajaki kerja sama pendidikan dan menyinkronkan program bersama antara MUI DKI Jakarta dengan Kemenag RI, khususnya terkait program Ma’had Aly di Direktorat Pendidikan Islam.
Pada pertemuan yang berlangsung hangat di Hotel Luminor Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026, KH. Muladi Mugheni menyampaikan bahwa BP-PKU MUI DKI Jakarta ingin membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya Kementerian Agama terkait bagaimana mendorong Pendidikan Dasar Ulama (PDU) MUI di setiap kota di DKI Jakarta bisa diformalkan pada jenjang Sarjana (S1).
“Selama ini, PDU di setiap kota se-Jakarta sudah menjalankan pendidikan ulama, tetapi belum linear S1. Ibarat sudah bisa menyetir tapi belum punya SIM,” tutur Muladi.
“Kalau PKU (Pendidikan Kader Ulama) MUI di DKI Jakarta sudah berjalan sangat baik dan mapan dengan jenjang formal S2 yang sudah level mahasiswanya internasional karena banyak lulusan luar negeri yang masuk PKU. Bahkan, PKU tidak pernah kekurangan mahasiswa. Malah banyak calon mahasiswa yang kita tolak karena kelebihan kapasitas. Saat ini, PDU yang kita pikirkan,” tambah Muladi.
Menurutnya, di setiap kota di Jakarta, PDU konsisten berjalan untuk mendidik dan membina calon ulama kompeten sebanyak 40-50 orang setiap dua tahun. Artinya, ada lebih dari 200 orang pada setiap angkatan yang memiliki kapasitas mumpuni dalam ilmu agama, tetapi tidak memegang ijazah formal. Hal ini yang perlu dicari formulasinya melalui penjajakan kerja sama dengan Kemenag RI untuk penyetaraan PDU ke jenjang S1.
Pada kesempatan ini, KH. Achmad Sudrajat yang mewakili MUI Jakarta Timur turut menjelaskan bahwa program PDU yang ada di kota, khususnya Jakarta Timur sangat disayangkan jika tidak diformalkan. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan ulama di MUI dengan mendorong berbagai program kerja sama yang seharusnya bisa dijalankan secara nasional dan internasional dengan berbagai lembaga pendidikan di berbagai negara. Hal ini diperkuat oleh Sekretaris BP-PKU Mulyadin Permana yang menegaskan bahwa Program PDU harus terus ditingkatkan kualitasnya dengan berbagai skema kolaborasi, khususnya diformalkan dengan jenjang S1. Jika bisa disinkronkan dengan program Ma’had Aly akan menjadi sangat bagus, apalagi bisa diarahkan ke STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika).
Direktur Ma’had Aly Kemenag RI, Dr. Mahrus menyambut baik keinginan kolaborasi untuk meningkatkan pendidikan agama berbasis pesantren di Indonesia, khususnya dengan MUI DKI Jakarta. Ia menjelaskan bahwa ada program Ma’had Aly yang sedang dirancang oleh Kemenag RI melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Melalui program ini, para ulama yang memang sudah memiliki kapasitas ilmu agama, lulusan pesantren, sudah berpengalaman mengajar, bisa diakui keilmuannya menjadi sarjana S1 sampai S2 tidak sampai 4 tahun, hanya sekitar 2 tahun. Program ini sangat bagus jika bisa dikolaborasikan dengan MUI DKI Jakarta karena memang pilot projectnya harus di Jakarta, tetapi harus melalui lembaga Ma’had Aly berbasis pesantren yang sudah terakreditasi mumtaz. Artinya, jenjang S1 dan S2 melalui Ma’had Aly harus berbasis pesantren, lembaganya harus atas nama pesantren dan terakreditasi, serta jurusannya hanya agama Islam (tidak bisa STEM).
“Jika program Ma’had Aly ini berjalan, bisa membantu menyerap lulusan pesantren yang begitu banyak untuk menjadi sarjana. Minimal dapat menjadi alternatif tujuan bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah di negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir yang sudah melampaui angka 20 ribu saat ini” tutup Mahrus.